Sewindu Dekat Bung Karno: Kitab Taubat Bambang Wijanarko

sewindu dkt bk

Sekitar tahun Sembilan puluhan (lupa tepatnya) saya sangat tertarik melihat sebuah buku kecil yang berjudul “Sewindu Dekat Bung Karno.”

Setelah saya baca ternyata isinya mengkisahkan pengalaman pribadi seorang Ajudan Presiden yang bernama Kolonel Bambang Wijanarko mengabdikan dirinya untuk mendampingi Presiden Soekarno dalam kurun waktu yang cukup lama, antara tahun 1960-1967. Dalam buku tersebut, Bambang Wijanarko banyak menulis tentang Presiden Pertama RI dari sisi kemanusiaan, terlepas dari paham politik serta kebijakan Presiden Soekarno dalam memimpin negeri ini.

Semakin sering buku tersebut saya baca, semakin tinggi imajinasi saya terhadap Kolonel Bambang Wijanarko. Saya membayangkan dirinya sebagai seorang tokoh yang benar-benar menyerahkan diri baik secara dinas maupun secara pribadi untuk menjunjung tinggi bahkan siap menjadi perisai hidup bagi Presiden Soekarno, terlebih saat Presiden Soekarno mengalami masa sulit pasca Tragedi 30 September 1965.

Sebagai pengagum sang Proklamator, maka Kolonel Bambang Wijanarko tak mungkin lepas dari daftar orang yang menjadi idola saya.

Namun beberapa tahun terakhir keadaan menjadi berubah. Kondisi politik dalam negeri menyebabkan semua kalangan bebas mengungkapkan apa dan bagaimana sebenarnya Bung Karno lengser prabon dari kursi kepresidenan.

Tap MPRS No.XXXIII/MPRS 1967 yang ditanda tangani oleh Jenderal Nasution selaku Ketua MPRS bagaikan sebuah belati yang melucuti semua kekuasaan dan kewenangan Presiden Soekarno. Bakhan melarangnya untuk melakukan kegiatan politik, karena ada indikasi keterlibatan Presiden Soekarno dalam peristiwa berdarah G30S PKI.

Salah satu dasar pertimbangan dikeluarkannya Tap MPRS ini adalah hasil pemeriksaan Team Pemeriksa Pusat (TEPERPU) atas diri mantan Ajudan Presiden Soekarno yakni Kolonel Bambang Wijanarko yang menyebutkan bahwa: “Presiden Sukarno pada malam 30 September menerima surat dari Letnan Kolonel Untung Samsuri, komandan batalyon I Resimen Tjakrabirawa yang memimpin Gerakan 30 September, di tengah- tengah penyelenggaraan acara penutupan Musyawarah Besar Teknik yang dihadiri oleh Presiden di ISTORA Senayan.” Keterangan tersebut tertuang dalam 14 Berita Acara Pemeriksaan (BAP) setebal 90 halaman.

Kesaksian Kolonel (KKO) Bambang Wijanarko ini ditolak keras oleh Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, Kolonel Maulwi Saelan yang malam itu bertanggung-jawab atas pengawalan dan pengamanan Presiden Soekarno yang memastikan bahwa sama sekali tidak ada adegan seperti yang dikatakan oleh Kolonel Bambang Wijanarko.

Pertanyaan besar yang ada adalah: Apa motivasi Kolonel Bambang Wijanarko memberi kesaksian seperti yang tertuang di atas. Adakah hal ini disebabkan gagalnya sang Kolonel untuk menjadi seorang Jenderal, sehingga sedilit banyak menimbulkan rasa kesal yang tak mampu diungkapkan saat Presiden Soekarno masih berkuasa.

Seperti yang tertulis dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno, Kolonel Bambang Wijanarko mengungkapkan secara jujur bahwa sebagai seorang prajurit Ia juga berkeinginan untuk memikul bintang dipundaknya (berpangkat Jenderal). Salah satu persyaratan untuk menjadi Jenderal adalah mengikuti ujian untuk masuk SESKO. Selama menjadi Ajudan Presiden Soekarno sudah dua kali Kolonel Bambang Wijanarko mengikuti tes masuk SESKO dan dinyakan lulus. Namun pada akhirnya selalu gagal masuk SESKO karena tidak mendapat ijin dari Presiden Soekarno dengan alasan keberadaan Kolonel Bambang Wijanarko sebagai Ajudan Presiden masih dibutuhkan oleh Presiden Soekarno. Sampai akhirnya Presiden Soekarno berencana untuk menaikkan pangkatnya menjadi Brigadir Jenderal tanpa harus masuk SESKO. Hal ini ditolak oleh Kolonel Bambang Wijanarko karena tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, dan bahkan akan menjatuhkan namanya sebagai Prajurit.

Bila fakta di atas bukan menjadi penyebab timbulnya kesaksian tersebut maka biarlah sejarah yang akan mengungkap semuanya.Terlepas dari semua fakta yang ada pada akhirnya saya menganggap buku Sewindu Dekat Bing Karno tidak ditulis secara jujur dan berharap kita semua melupakan masalah kesaksiaannya di depan TEPERPU, dan berharap untuk mendapat predikat “Orang dekat Bung Karno”

Salam: Tony Mardianto

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.