FOTO SOEKARNO 111-115

tonys file 141

Presiden Soekarno 111


tonys file 142

Presiden Soekarno 112


tonys file 143

Presiden Soekarno 113


tonys file 144

Presiden Soekarno 114


tonys file 145

Presiden Soekarno 115


Salam Revolusi

FOTO SOEKARNO 106-110

tonys file 136

Presiden Soekarno 106


tonys file 137

Presiden Soekarno 107


tonys file 138

Presiden Soekarno 108


tonys file 139

Presiden Soekarno 109


tonys file 140

Presiden Soekarno 110


Salam Revolusi

FOTO SOEKARNO 101-105

tonys file 131

Presiden Soekarno 101



tonys file 132

Presiden Soekarno 102



tonys file 133

Presiden Soekarno 103



tonys file 134

Presiden Soekarno 104



tonys file 135

Presiden Soekarno 105




Salam Revolusi

Sewindu Dekat Bung Karno: Kitab Taubat Bambang Wijanarko

sewindu dkt bk

Sekitar tahun Sembilan puluhan (lupa tepatnya) saya sangat tertarik melihat sebuah buku kecil yang berjudul “Sewindu Dekat Bung Karno.”

Setelah saya baca ternyata isinya mengkisahkan pengalaman pribadi seorang Ajudan Presiden yang bernama Kolonel Bambang Wijanarko mengabdikan dirinya untuk mendampingi Presiden Soekarno dalam kurun waktu yang cukup lama, antara tahun 1960-1967. Dalam buku tersebut, Bambang Wijanarko banyak menulis tentang Presiden Pertama RI dari sisi kemanusiaan, terlepas dari paham politik serta kebijakan Presiden Soekarno dalam memimpin negeri ini.

Semakin sering buku tersebut saya baca, semakin tinggi imajinasi saya terhadap Kolonel Bambang Wijanarko. Saya membayangkan dirinya sebagai seorang tokoh yang benar-benar menyerahkan diri baik secara dinas maupun secara pribadi untuk menjunjung tinggi bahkan siap menjadi perisai hidup bagi Presiden Soekarno, terlebih saat Presiden Soekarno mengalami masa sulit pasca Tragedi 30 September 1965.

Sebagai pengagum sang Proklamator, maka Kolonel Bambang Wijanarko tak mungkin lepas dari daftar orang yang menjadi idola saya.

Namun beberapa tahun terakhir keadaan menjadi berubah. Kondisi politik dalam negeri menyebabkan semua kalangan bebas mengungkapkan apa dan bagaimana sebenarnya Bung Karno lengser prabon dari kursi kepresidenan.

Tap MPRS No.XXXIII/MPRS 1967 yang ditanda tangani oleh Jenderal Nasution selaku Ketua MPRS bagaikan sebuah belati yang melucuti semua kekuasaan dan kewenangan Presiden Soekarno. Bakhan melarangnya untuk melakukan kegiatan politik, karena ada indikasi keterlibatan Presiden Soekarno dalam peristiwa berdarah G30S PKI.

Salah satu dasar pertimbangan dikeluarkannya Tap MPRS ini adalah hasil pemeriksaan Team Pemeriksa Pusat (TEPERPU) atas diri mantan Ajudan Presiden Soekarno yakni Kolonel Bambang Wijanarko yang menyebutkan bahwa: “Presiden Sukarno pada malam 30 September menerima surat dari Letnan Kolonel Untung Samsuri, komandan batalyon I Resimen Tjakrabirawa yang memimpin Gerakan 30 September, di tengah- tengah penyelenggaraan acara penutupan Musyawarah Besar Teknik yang dihadiri oleh Presiden di ISTORA Senayan.” Keterangan tersebut tertuang dalam 14 Berita Acara Pemeriksaan (BAP) setebal 90 halaman.

Kesaksian Kolonel (KKO) Bambang Wijanarko ini ditolak keras oleh Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, Kolonel Maulwi Saelan yang malam itu bertanggung-jawab atas pengawalan dan pengamanan Presiden Soekarno yang memastikan bahwa sama sekali tidak ada adegan seperti yang dikatakan oleh Kolonel Bambang Wijanarko.

Pertanyaan besar yang ada adalah: Apa motivasi Kolonel Bambang Wijanarko memberi kesaksian seperti yang tertuang di atas. Adakah hal ini disebabkan gagalnya sang Kolonel untuk menjadi seorang Jenderal, sehingga sedilit banyak menimbulkan rasa kesal yang tak mampu diungkapkan saat Presiden Soekarno masih berkuasa.

Seperti yang tertulis dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno, Kolonel Bambang Wijanarko mengungkapkan secara jujur bahwa sebagai seorang prajurit Ia juga berkeinginan untuk memikul bintang dipundaknya (berpangkat Jenderal). Salah satu persyaratan untuk menjadi Jenderal adalah mengikuti ujian untuk masuk SESKO. Selama menjadi Ajudan Presiden Soekarno sudah dua kali Kolonel Bambang Wijanarko mengikuti tes masuk SESKO dan dinyakan lulus. Namun pada akhirnya selalu gagal masuk SESKO karena tidak mendapat ijin dari Presiden Soekarno dengan alasan keberadaan Kolonel Bambang Wijanarko sebagai Ajudan Presiden masih dibutuhkan oleh Presiden Soekarno. Sampai akhirnya Presiden Soekarno berencana untuk menaikkan pangkatnya menjadi Brigadir Jenderal tanpa harus masuk SESKO. Hal ini ditolak oleh Kolonel Bambang Wijanarko karena tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, dan bahkan akan menjatuhkan namanya sebagai Prajurit.

Bila fakta di atas bukan menjadi penyebab timbulnya kesaksian tersebut maka biarlah sejarah yang akan mengungkap semuanya.Terlepas dari semua fakta yang ada pada akhirnya saya menganggap buku Sewindu Dekat Bing Karno tidak ditulis secara jujur dan berharap kita semua melupakan masalah kesaksiaannya di depan TEPERPU, dan berharap untuk mendapat predikat “Orang dekat Bung Karno”

Salam: Tony Mardianto

Soekarno Bukan Dewa

soekarno 6

Pasca keruntuhan Orde Baru seolah menjadi lampu hijau untuk bangkitnya kembali Soekarnoisme di Indonesia. Bagaikan orang yang berpuasa untuk mengagungkan Soekarno, maka bedug keruntuhan Orde Baru dijadikan saat yang tepat untuk melepas kehausan sepuas-puasnya terhadap figur Soekarno.

Seiring kondisi di atas ada pertanyaan yang harus kita jawab dengan akal sehat, bukan dengan memori indah masa lalu. “Layakkah Soekarno memperoleh sanjungan yang tak berbatas itu ?” Jawabnya adalah “tidak, sekali lagi tidak.” Jawaban ini saya yakin menimbulkan kemarahan bagi para Soekarnoisme. Tetapi memang itu yang harus saya katakan.

Sebagai seorang orator maka saya mengacungkan jempol untuk Soekarno. Sebagai pemersatu bangsa, Soekarno tiada duanya. Sebagai Proklamator, jangan coba-coba ada yang mengingkari. Tetapi sebagai pemimpin besar bangsa ini kita harus berfikir secara jernih.

Pola pikir Soekarno  dan penghormatan rakyat lapisan bawah akan lebih tepat seandainya Soekarno menjadi “Raja Indonesia” dan memimpin bangsa ini dijaman kerajaan.

Ada beberapa hal yang dimiliki Soekarno yang hanya layak diperoleh dan dilakukan oleh seorang raja diantaranya:

  1. Presiden seumur hidup.
  2. Demokrasi terpimpin.
  3. Kultus individu.
  4. Adanya lebih dari satu istri .

Presiden seumur hidup: Pengangkatan dirinya (tidak adanya penolakan) sebagai Presiden seumur hidup merupakan pemutar balikan secara drastis apa yang selama ini selalu dia perjuangkan. Menghapus feodalisme di Indonesia. Indonesia harus menjadi negara demokrasi demikian selalu Soekarno katakan, dan sendainya bukan Soekarno yang diangkat menjadi presiden seumur hidup maka saya yakin dia akan menjadi orang terdepan yang memprotes keputusan tersebut. Kepentingan pribadi telah berada di atas visi perjuangan Soekarno. Dan hanya seorang raja yang berhak atas pengangkatan tersebut. Soekarno mencoba menembus dinding sebagai “Presiden RI” menuju “Raja Indonesia”

Demokrasi terpimpin: Demokrasi yang bertanggung jawab dan beretika adalah suatu keharusan, tetapi demokrasi terpimpin merupakan bibir otoriter yang dibalut gincu demokrasi. Kondisi yang demikian hanya patut terjadi dijaman kerajaan. Adakah faktor usia telah membuat Soekarno lupa bahwa dia hidup di Negara Demokrasi bukan dijaman kerajaan.

Kultus Individu yang terlalu dominan dan terkadang berbau mistik makin melengkapi Soekarno untuk menjadi seorang raja. Peci, tongkat komando sering menimbulkan kisah mistik laksana busana dan keris para raja. Soekarno sebagai seorang intelektual seakan-akan membiarkan semua itu semakin berkembang, termasuk gambar di atas mungkin lebih layak diterima seorang raja bukan seorang Presiden.

Keberadaan lebih dari satu istri lebih mendekatkan Soekarno sebagai seorang raja, dan hal tersebut dianggap wajar untuk seorang Soekarno. Kultus individu telah menutup mata semua elemen bangsa saat itu. Setiap kunjungan ke luar negeri selalu mengisahkan cerita kecil tentang Soekarno dan wanita. Termasuk saat bung Karno hendak membeli BH di sebuah pertokoan di luar negeri, ia tak segan memajang semua pramu niaga wanita guna mencari ukuran yang pas. Etiskah itu dilakukan oleh seorang kepala Negara ? dan begitu pentingkah BH tersebut sehingga harus dibeli disela-sela kunjungan sebagai kepala Negara. Dimanakah nama bangsa yang terkenal dengan sopan santunnya ?

Bagi anda yang pernah membaca Sewindu Dekat Bung Karno, tentu akan menemui cuplikan cerita bagaimana seorang ajudan Presiden (Kol. KKO. Bambang Wijanarko) diminta untuk mencari teman kencan pada malam hari, dan harus menceritakan kemesuman yang terjadi pada malam itu pada saat sarapan pagi keesokan harinya. Adakah hal ini lazim dilakukan oleh seorang Presiden ?

Kondisi pada saat itu membuat semua orang takut untuk memberikan peringatan kepada Soekarno, pers kehabisan tinta untuk menulis dan akhirnya diam bahkan menyebut itu semua sebagai kelebihan dari sosok Soekarno, karena semua sadar apabila hal itu dilakukan maka tangan besi Soekarno sebagai jawabannya. Pada prinsipnya tangan besi Soekarno tak jauh berbeda dengan tangan besi seorang raja, serta saudara kembar dari system Soeharto.  Merah hitam Indonesia ditentukan oleh Soekarno.

Mari kita bedah nurani ini, dan tempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, termasuk sosok Soekarno. Namun demikian, masih banyak sumbangsih Soekarno untuk bangsa ini. Dan tidak terlalu berlebihan apa bila berdasar pada sisi positif perjuangan Soekarno maka pemerintah menetapkan serta mengangkat Soekarno menjadi Pahlawan Nasional.

Salam: Tony Mardianto

Soeharto Putera Mahkota Soekarno

INDONESIA

Indonesia sebagai suatu bangsa sebenarnya pernah mendapat anugerah surga. Hal itu terwujud karena di Bumi Nusantara ini pernah terlahir 2 tokoh besar yang hidup dalam jaman yang berkesinambungan. Yang satu menggantikan yang lainnya. Ke 2 tokoh tersebut adalah SOEKARNO dan SOEHARTO. Dalam satu abad kedepan saya tidak yakin Indonesia mendapat pengganti ke 2 tokoh besar tersebut.

Berbicara hubungan antara Presiden Soekarno dan Jend. Soeharto, pikiran kita akan langsung tertaut pada peritiwa berdarah G30S PKI. Yang Nampak dalam pemikiran kita serta berbagai analisa selama ini adalah : JENDERAL SOEHARTO melakukan KUDETA terselubung atas Presiden SOEKARNO. Adakah yang pernah berfikir bahwasanya Jend. Soeharto adalah Kader Terbaik Presiden Soekarno, atau dalam bahasa Poltik kita menyebut :  JENDERAL SOEHARTO PUTERA MAHKOTA PRESIDEN SOEKARNO.

Untuk lebih menjelaskan permasalahan diatas maka kita harus kembali mengevaluasi Siapa Presiden Soekarno dan bagaimana faham Politik yang diyakini dan dijunjung tinggi oleh Soekarno sejak menginjakkan kaki dikancah Pergerakan Nasional.

Presiden Soekarno menjunjung tinggi Nasionalisme, dan mengaplikasikan Faham Demokrasi dalam menjalankan Pemerintahan. Salah satiu inti dari pemerintahan yang menganut faham Demokrasi adalah : Jabatan Presiden bukan bersifat abadi. Tetapi terus bergulir dengan berpedoman pada suara dan aspirasi rakyat. Membaca penjelasan ini tentu akan mengundang pertanyaan : Mengapa Soekarno mengangkat dirinya sebagai Presiden seumur hidup , yang berarti pula bahwa Presiden Soekarno telah mengangkat dirinya sebagai Raja di Indonesia.

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah TIDAK. Sekali lagi TIDAK. Pengangkatan Presiden Soekarno sebagai Presiden seumur hidup adalah merupakan strategi politik Presiden Soekarno. Presiden Soekarno menyadari bahwa jabatan sebagai Presiden RI merupakan incaran beberapa tokoh, baik tokoh politik maupun tokoh militer. Dengan mengangkat diri sebagai Presiden seumur hidup, Presiden Soekarno berharap dapat membunuh harapan orang-orang yang mengincar kursi Kepresidenan. Presiden Soekarno membutuhkan waktu untuk menggodok PUTRA MAHKOTA hingga siap menerima tongkat komando sebagai  Presiden RI.

Kita semua tahu bahwa Presiden Soekarno sejak masih muda sudah keranjingan untuk belajar berbagai teori politik yang ada. Dan salah satu teori politik yang sedikit mempengaruhi pola pikir Presiden Soekarno adalah teori Komunis. Hal ini bukan sebagai bukti bahwa dia Komunis. Presiden Soekarno tetap Nasionalis. Salah satu strategi Komunis yang digunakan Presiden Soekarno adalah menutup rapat rahasia siapa sebenarnya Putra Mahkota yang tengah dipersiapkan untuk menerima Komando Presiden RI ke 2.

Keberadaan Putera Mahkota hanya di ketahui oleh SEGITIGA EMAS, yakni Presiden Soekarno, Jend. Soeharto dan Letkol Untung. Penempatan Letkol Untung selaku salah satu Komandan Pasukan Cakra Bhirawa adalah hasil kesepakatan Segitiga Emas. Dalam hal ini Letkol Untung berfungsi sebagai pelindung Presiden Soekarno dan penghubung antara Presiden Soekarno dan Jend. Soeharto. Yang tentu saja semua itu dilakukan secara diam-diam. (Operasi Intelijen). Dengan kata lain Letkol Untung merupakan JEMBATAN EMAS antara RAJA & PUTERA MAHKOTA. Kedekatan Untung dengan Jend. Soeharto diawali saat Jend. Soeharto menjabat Pangdam Diponegoro. Dan atas perintah Presiden Soekarno Lekol Untung mendampingi Jenderal Soeharto dalam Operasi Mandala. Tugas utamanya adalah menyelamatkan sang Putera Mahkota apabila terjadi kondisi darurat.

Setelah selayang pandang kita tampilkan hubungan Segitiga Emas dalam rencana Suksesi Nasional, maka sebagian kita pasti bertanya : Dimana posisi PKI dalam proses alih generasi ini.

PKI mendapat dukungan kuat dari RRC, hal ini membuat Partai ini sempat melambung di kancah Politik Nasional. Kekuatan dukungan dari RRC ini membuat Presiden Soekarno tidak gegabah dalam menghadapi PKI. Tapi kita semua tahu bahwasanya Presiden Soekarno adalah seorang Muslim yang taat menjalankan ibadah agamanya. Dalam hal Keagamaan Presiden Soekarno berfaham Muhammadiyah. Dengan dasar sebagai muslim yang taat ini sebenarnya Presiden Soekarno tidak menginginkan keberadaan Partai Komunis di Indonesia. Dalam suatu percakapan dengan beberapa tokoh Nasionalis Presiden Soekarno mengatakan “ Aku sekarang sedang Fokus dalam konfrontasi dengan Malaysia. Masalah PKI nanti akan tiba waktunya “

Menghadapi kondisi yang serba sulit ini maka Presiden Soekarno dan Jend. Soeharto mengatur strategi agar dapat menghancurkan Partai Komunis dengan cara MELEMPAR BOLA API LALU BAKAR. Atau dengan kata lain MENGGIRING PARTAI KOMUNIS UNTUK MENGGALI KUBUR SENDIRI. Suatu operasi Intelijen besar yang tumbuh dari 2 jenius Indonesia.

Fakta-fakta dibawah ini akan menambah keyakinan kita bagaimana sebenarnya hubungan antara Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto.

  1. Saat Jenderal Soeharto di adili untuk kasus penyelindupan peralatan tempur TNI AD, Presiden Soekarno memerintahkan menghentingan proses hukum yang tengah berjalan. Hal ini menimbulkan kekecewaan dan pertanyaan besar bagi para Perwira yang menangani kasus tersebut.
  2. Jenderal Soeharto tidak masuk dalam daftar KANDIDAT calon Pangdam Diponegoro. Tetapi karena campur tangan Presiden Soekarno selaku Panglima tertinggi ABRI maka jabatan Pangdam Diponegoro di serahkan kepada Jenderal Soeharto.
  3. Pengangkatan Jenderal Soeharto sebagai PANGKOSTRAD juga tak lepas dari peran Presiden Soekarno. Presiden Soekarno memahami bahwa jabatan Pangkostrad merupakan jabatan Strategis di lingkungan TNI AD. Maka hanya seorang Putera Mahkota yang berhak mendudukinya.
  4. Rencana pengangkatan Jenderal Pranoto sebagai pengendali sementara TNI AD pasca terjadinya G30S PKI hanya sebuah sandiwara. Pada kenyataannya Jenderal Soeharto lah yang menduduki jabatan tersebut. Sandiwara perlu dilakukan untuk menutup kedekatan Presiden Soekarno dan Jenderal Soeharto.
  5. Tidak tercantumnya nama Jend. Soeharto dari daftar Jenderal yang di culik pada peristiwa G30S PKI pada awalnya menjadi sebuah misteri besar. Secara logika apabila operasi tersebut di tujukan untuk melenyapkan Jenderal yang berposisi strategis di lingkungan TNI AD , maka sebagai Pangkostrad seharusnya menduduki daftar teratas setelah Jenderal A. Yani. Tetapi bila kita lihat bahwa komandan operasi tersebut bagian dari Segitiga Emas maka wajar jika Jendral Soeharto tidak termasuk di dalamnya. Dan bila kita lebih jeli melihat nama para korban penculikan, Nampak disana sederet nama yang pernah terlibat dalam pengusutan Jend. Soeharto dalam kasus penyelundupan peralatan tempur TNI AD. Dan mereka mencium bau kurang sedap tentang kedekatan Jend. Soeharto dan Presiden Soekarno. Jadi pada dasarnya penculikan bebrapa Jenderal di jajaran TNI AD tersebut lebih terfokus untuk menghapus jejak adanya Putera Mahkota Presiden Soekarno.
  6. Pemberian SUPERSEMAR dari Presiden Soekarno kepada Jend. Soeharto merupakan titik puncak rencana Presiden Soekarno dan Jend. Soeharto untuk melenyapkan PKI dari Indonesia. Dan hal ini dipandang oleh dunia luar sebagai dampak percobaan Kudeta yang dilakukan oleh PKI dengan bantuan beberapa Jenderal TNI AD yang tergabung dalam Dewan Jenderal. Dan tugas penumpasan PKI dianggap sebagai tugas yang sangat besar, sehingga hanya layak dilakukan oleh seorang Putera Mahkota. Dalam hal ini Jenderal Soeharto. Jelas Nampak disini bahwasanya pemberian SUPER SEMAR bukan bersifat paksaan apalagi dibawah todongan senjata Basuki Rahmat, dan M. Yusup, seperti kabar yang beredar saat ini. Perlu diingat bahwa Pemberian Super Semar dilakukan oleh Presiden Soekarno saat dia masih menjabat Presiden RI/Pemimpin Besar Revolusi dan Panglima Tertinggi ABRI. Dengan Jabatan tersebut alangkah mudahnya Presiden Soekarno menggunakan kekuatan TNI AU, TNI AL dan POLRI untuk menghancurkan kekuatan Jenderal Soeharto, serta menghukum gantung Basuki Rahmat dan M.Yusup, atas kelancangannya mengancam seorang Presiden.

Proses Suksesi kepemimpinan Nasional mulai bergulir. Dengan Super Semar  di tangan perlahan Jenderal Soeharto menerima tongkat estafet kepemimpinan nasional.

Dan pada posisi inilah sejarah berputar 180 derajat. Tanpa diduga sebelumnya, CIA melancarkan operasi anti Soekarno. Berbagai elemen masyarakat dimasuki oleh CIA. Sehingga dalam waktu singkat berkobarlah api anti Soekarno. Para Mahasiswa juga ambil bagian dalam gerakan anti Soekarno. Dalam situasi ini, siapapun yang dipandang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Soekarno akan di hancurkan.

Kondisi yang sangat sulit ini menyebabkan Jenderal Soeharto segera merubah strategi yang dijalankan. Dari seorang Putera Mahkota berbalik berdiri di belakang Mahasiswa mengobarkan api anti Soekarno. Sehingga dalam waktu singkat Jenderal Soeharto berhasil mendapat simpati elemen masyarakat , mahasiswa dan CIA. Mereka menganggap Jenderal Soeharto sebagai calon pemimpin masa depan dan layak mendapat dukungan.

Ganjalan satu-satunya tinggal Letkol Untung , hanya dia yang tahu bahwa Jenderal Soeharto merupakan Putera Mahkota Presiden Soekarno. Sebelum semuanya terbongkar, maka disingkirkanlah Letkol Untung oleh Jenderal Soeharto. Disini nampak bahwa pembunuhan Letkol Untung bukan karena menjadi Komandan Penculikan Jenderal Angkatan Darat, tetapi karena Letkol Untung mengetehui siapa sebenarnya Jenderal Soeharto.

Untuk lebih meyakinkan perannya sebagai Jenderal yang anti Soekarno, maka mulailah Jenderal Soeharto melakukan terror kepada Presiden Soekarno dan keluarganya serta para pengikut setia Presiden Soekarno.

Bukan suatu hal yang aneh apabila dokumen bersejarah Super Semar  yanga asli sampai saat ini tidak ditemukan. Karena susunan kata yang ada dalam Super Semar yang asli, Presiden Soekarno mulai mengungkapkan tentang keberadaan Putera Mahkota.  Dan apabila hal ini sampai di ketahui kalangan luar, maka Jenderal Soeharto lah yang akan di buru oleh berbagai elemen masyarakat. Karena ternyata Jenderal Soeharto lah orang  yang paling dekat dengan Presiden Soekarno.

Puncak pertanyaan besar dalam permasalahan diatas adalah : Mengapa Presiden Soekarno membiarkan dirinya menjadi korban arus Revolusi . Jawabannya adalah Presiden Soekarno tidak sepenuhnya merasa kalah. Walau kenyataan pahit yang harus di telannya, tetapi paling tidak Presiden Soekarno merasa puas karena Putera Mahkota nya berhasil menjadi Presiden RI ke 2 menggantikannya.

Salam : Tony Mardianto

Jend. Soeharto: Tokoh Strategi Indonesia

kqg8nfdxlw2x

Membahas Jenderal Soeharto sama halnya mengejar bayang bayang kita sendiri ditengah teriknya matahari. Kita takkan pernah menjumpai titik yang pas untuk mendefinisikan Profile Jenderal Soeharto. Apabila dalam kisah Ramayana kita mengenal tokoh DASAMUKA ( Sepuluh wajah ) maka kita di Bumi Nusantara ini juga memiliki tokoh Dasamuka (sepuluk wajah) bahkan lebih dari sepuluh.

Perbedaan yang prinsip diantara keduanya hanya pengaturan waktu dalam pengunaan kesepuluh wajah yang dimilikinya. Dasamuka selalu menggunakan sepuluh wajah yang dimilikinya secara bersama-sama, tetapi tidak demikian halnya dengan Jenderal Soeharto.  Jenderal Soeharto sangat pandai menyelaraskan wajah dan waktu pengunaannya. Maka tak heran jika terkadang kita melihatnya sebagai ALGOJO berdarah dingin. Tapi dilain sisi dia akan tampil sebagai DEWA PENOLONG bagi sebagian rakyat Indonesia. Jenderal Soeharto begitu menyayangi kesepuluh wajah yang dimilikinya, dan ingin terus memelihara sehingga selalu Nampak awet muda.  Guna memenuhi keinginan tersebut maka dibentukla team Khusus untuk merawat wajah-wajah Jenderal Soeharto dengan baik. Kedua tim tersebut oleh Jenderal Soeharto di beri nama ABRI dan GOLKAR. Kedua tim inilah yang senantisa dengan setia mengawal setiap langkah Jenderal Soeharto.

Berbagai uraian diatas hanya merupakan selayang pandang dari sosok Jend. Soeharto. Dan tulisan kali ini Penulis akan menggali sosok Jend. Soeharto dari sisi yang berbeda. Saya tidak melihat Jend. Soeharto sebagai sebuah sosok pribadi, tetapi lebih memfokuskan pada LANDASAN BERFIKIR JENDERAL SOEHARTO. Selaras dengan arah artikel ini maka Penulis tidak membuat evaluasi tentang HITAM & PUTIHNYA Strategi yang dimainkan oleh Jenderal Soeharto.

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan Landasan Berfikir Jend. Soeharto :

-          Kemauan yang kuat untuk merubah nasib

-          Kemampuan menghapus jejak hitam masa lalu

-          Kepekaan memanfaatkan peluang yang ada

-          Berani mengambil keputusan yang beresiko tinggi.

-          Mampu menstabilkan dan meredam kondisi yang ada.

Kemauan yang kuat untuk merubah nasib :

Jend. Soeharto adalah sosok anak desa yang memiliki cita-cita dan kemauan yang keras. Dia bukan seorang sarjana, dan karier militernya diawali sebagai seorang opsir KNIL. Dia bukan lulusan Akademi Militer. Namun demikian, dengan berbekal kerja keras dan kecerdikan, Pangkat Jenderal TNI berhasil di raihnya. Bukan hanya sekedar Jenderal Staff dilingkungan TNI AD, tapi Jabatan Pangkostrad . Pangkostrad merupakan jabatan Prestise di lingkungan TNI AD. Semua Jenderal TNI AD mendabakan jambatan tersebut. Tetapi hanya hanya Jenderal pilihan yang mampu meraihnya. Dan salah satunya adal Jenderal Soeharto. Disini Nampak kelebihan Jenderal Soeharto dibanding Jenderal lainnya.

Kemampuan menghapus jejak hitam masa lalu :

Perjalanan karier militer Jenderal Soeharto tidak selalu putih. Jenderal Soeharto kerap tersandung dalam lembaran hitam. Satu kasus yang sangat menonjol dan sangat kritis dalam kariernya di dunia mliter adalah kasus penyelundupan peralatan tempur milik TNI AD. Hal ini hamper membuat karier militernya berakhir tragis. Namun kembali pada kemampuannya sebagai Dasamuka Indonesia, maka dengan tepat dia mampu memilih wajah yang harus dipakai dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Dengan cerdiknya dia bias menghindar dari berbagai tuntutan. Bahkan catatan hutam tersebut tidak menjadi penghalang bagi Jenderal Soeharto dalam merebut jabatan PANGKOSTRAD. Mengapa jabatan Pangkostrad tidak di berikan kepada Jenderal yang memiliki catatan bersih ?. Jawabannya hanya satu, yaitu : Jenderal Soeharto memiliki Strategi yang jauh lebih tinggi dibanding  Jenderal lainnya.

Kamampuan memanfaatkan peluang yang ada :

Peristiwa G30S PKI membuat kalang kabut semua petinggi yang ada di Indonesia. Baik dari kalangan sipil maupun dari kalangan militer. Bahkan Presiden Soekarno pun terlambat dan tidak cepat melikat realita yang ada. Hal demikian tidak berlaku bagi Jenderal Soeharto. Dengan pemikiran yang tenang dan langkah yang pasti dia menciptakan peluang dalam kondisi yang ada. Dengan strategi yang halus, dia susun kekuatan. Hal ini berujung pada titik klimaksnya dengam penyerahan Surat Perintah Sebelas Maret (SUPER SEMAR) dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Kita semua tahu betap jeniusnya Presiden Soekarno. Dunia International juga mengakiui hal tersebut. Namun pada kenyataannya Presiden Soekarno tidak mampu membaca strategi yang tengah dijalankan Jenderal Soeharto . Maka secara jujur harus kita akui bahwa Jenderal Soeharto memiliki strategi penyerangan yang demikian hebat dan halus. Hal ini hanya dimiliki oleh seorang Jenderal yang memiliki Strategi tempur dan strategi Intelijen yang jenius. Sekali lagi hal tersebut hanya dimiliki Jend. Soeharto.

Berani mengambil keputusan yang beresiko tinggi :

Banyak sumber sejarah yang menyebutkan bahwasanya Super Semar di dapat oleh Jenderal Soeharto dengan cara paksa. Andaipun hal tersebut benar, kesimpulan yang dapat kita tarik disini menyebutkan bahwasanya Jenderal Soeharto memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang beresiko tinggi. Bisa dibayangkan, bagaimana seorang Jenderal mampu memaksakan kehendak kepada seorang Presiden RI/Mandataris MPR/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi , Soekarno. Hanya Jenderal yang berjiwa Harimau mampu melakukan semua itu. Jenderal Soeharto berdiri dipersimpangan jalan dan hanya memiliki 2 pilihan: Menjadi Presiden, atau Mati di gantung sebagai seorang yang melakukan kudeta. Mampukah kita melakukan hal itu ? jawabannya sudah pasti TIDAK MAMPU. Karena kita hanya bagian dari orang-orang berjiwa kerdil. Kita hanya mampu berteriak kepada seseorang apabila orang tersebut dalam posisi lemah dan tidak lagi berkuasa.

Mampu menstabilkan dan meredam kondisi yang ada.

Pasca lengsernya Presiden Soeharto, jabatan Presiden RI datangng silih berganti personil. Sepintas bagaikankan orang keluar masuk di kamar kecil yang ada di terminal. Mengapa demikian ? Jawabannya hanya satu, mereka tidak bisa menguasai dan meredam kondisi yang ada.  Jangan berdalih bahwa kesadaran berdemokrasi di Indonesia saat ini jauh lebih tinggi disbanding jaman Presiden Soeharto, tapi jawablah dengan jujur bahwa “ Saya lebih bodoh dari Jenderal Soeharto “. Jangan katakan bahwa Jenderal Soeharto dengan jahat telah membungkam aspirasi rakyat, tapi katakanlah Jenderal Soeharto begitu jenius untuk membungkam aspirasi rakyat.

Melihat dari berbagai kenyataan yang tertuang diatas, maka kita sebagai generasi penerus suatu bangsa harus mampu menyerap LANDASAN BERFIKIR JENDERAL SOEHARTO, hal ini akan sangat berguna untuk kelangsungan hidup kita sebagai sebuah pribadi ataupun kita sebagai bagian suatu bangsa menghadapi masa depan. Tinggal kemampuan kita member FILTER NORMA AGAMA dalam aplikasi nyata.

Salam : Tony Mardianto

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.